Alasan Kenapa Drakor Bisa Digandrungi Masyarakat


Sebagai penikmat film barat, gue terbiasa dengan drama-drama dan konflik yang sebenarnya agak jauh dari kehidupan sehari-hari.

Tentu, perbedaan kultur pasti memberikan kesenjangan penggambaran terhadap kehidupan bermasyarakat di sebuah film atau serial TV.

Sementara film Indonesia yang banyak diantaranya punya gaya bahasa percakapan yang terasa kaku, dan jauh dari keseharian kita.

Ditambah adanya pandemi yang membuat industri film Indonesia sedikit macet, dan akhirnya mengandalkan layanan on-demand di internet.

Inilah yang membuat banyak dari kita yang akhirnya memilih menonton film atau serial TV Thailand, Taiwan, anime dari Jepang, dan juga dari Korea. Atau yang kita kenal sebagai K-Drama atau Drakor.

Dengan banyaknya pilihan mulai dari genre, durasi film atau series, dan jenis tontonan yang beragam. K-Drama juga menggambarkan kehidupan khas Asia Timur yang bisa dibilang tidak terlalu jauh dari budaya kita.

Ditambah dengan paras aktor dan aktris yang rupawan, menjadikan K-Drama pilihan utama alternatif hiburan selain tayangan dari barat.

Sebagai orang yang bisa dibilang newbie dalam hal K-Drama, menurut gue ada beberapa poin yang membuat gue merasakan kelebihan K-Drama dibandingkan tayangan-tayangan lokal bahkan barat.

Drama yang sulit ketebak

Berawal dari film Parasite yang menang di piala Oscar tahun lalu, gue menyadari betapa jeli-nya orang Korea membangun cerita, dan membuat konflik dalam sebuah film.

Padahal, sebelum nonton film itu, gue sempat baca-baca beberapa spoiler untuk memperkuat keinginan menonton film itu.

Ternyata drama dan konflik yang disajikan film ini tetap membuat gue kaget, kagum, dan berpikir, “kok bisa kepikiran kayak gini ya”.

Long story short, gue coba nonton Itaewon Class (gak selesai sih), dan mendapatkan pengalaman yang serupa.

Hingga puncaknya beberapa hari yang lalu gue nonton Start-Up (iya gue tau telat banget), karena gue baru merasa harus nonton setelah dua kali ditanya saat interview, “sudah nonton Start-Up?”.

Awalnya gue udah sempat nonton sebentar pas lagi booming-booming-nya setial TV ini (2020). Tapi karena gue gak suka ngikutin trend, dan gak mau bias saat nonton, jadilah gak gue selesaikan.

Ternyata pengalaman yang serupa gue dapetin dari serial TV ini, drama-drama dan konflik-konflik yang gak terbayangkan sebelumnya selalu hadir di setiap episode-nya.

Keren sih gue akuin, walaupun dari sisi teknis “Start-Up”-nya gue harus bilang belum lebih bagus dari serial TV “Silicon Valley” dari HBO. Tapi untuk jalan ceritanya, drama-dramanya, kalian juara!

Music Scoring & Lagu Berkualitas!

Sebenarnya poin ini gak begitu mengherankan, meningat bagaimana K-Pop atau musik Korea menjajah seluruh belahan bumi.

Di serial Start-Up contohnya, pemilihan soundtrack di setiap “mood”-nya itu pas banget, bahkan kadan liriknya juga pas sama momennya.

Music scoring di serial TV ini juga keren! Gak kalah sama film atau serial TV dari barat yang secara industri lebih tua dari K-Drama.


Menonton serial TV Korea atau K-Drama sejujurnya membuat gue bertanya-tanya, “kapan ya Indonesia bisa bikin sebagus ini?”.

Semoga dari sini kita bisa belajar, dan akhirnya bisa menikmati pengalaman yang serupa dari film dan serial TV lokal.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *